Slider

LOWONGAN KERJA

MINANG SAISUAK

TOKOH

KULINER

SEJARAH

BUDAYA

Sejarah Batu Batikam

Datuak Parpatiah dan Datuak Katumangguangan berdebat hebat. Keduanya adalah orang bersaudara, berlainan bapak. Datuak Parpatiah nan Sabatang, adalah seorang yang dilahirkan dari seorang bapak aristokrat (cerdik-pandai). Sementara Datuak Katumangguangan, dilahirkan dari seorang ayah yang otokrat (raja-berpunya). Namun pada keduanya, juga mengalir darah dari ibu yang sama, seorang perempuan biasa, seperti apa adanya.
Darah yang mengalir di tubuh keduanya, ternyata berpengaruh pada pandangan hidup yang dijalani. Datuak Parpatiah, menginginkan masyarakat diatur dalam semangat yang “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi” (demokratik). Sedang Datuak Katumangguangan, menginginkan rakyat diatur dalam sebuah tatanan yang “berjenjang naik, bertangga turun” (hierarkhial). Perbedaan yang kemudian meruncing menjadi perdebatan, bahkan menjurus menjadi pertikaian...

Sama-sama menghindari untuk melukai saudaranya, kedua datuak kemudian menikamkan pedang dan kerisnya pada batu. Kedua batu itu sekarang, dikenal dengan nama “Batu Batikam” (Batu yang ditikam). Yang satu berdiri tegak di tepi jalan Limo Kaum, di Batu Sangkar Sumatera Barat. Yang lain, ditelan oleh waktu, tinggal cerita, namun tetap dikenang sebagai pertanda. Betapa nenek moyang, yang memiliki kesaktian untuk menghancurkan, bahkan tidak menyukai kekerasan.
Datuak Parpatiah lalu pergi merantau. Memperbandingkan keyakinannya dengan dunia luar. Datuak Katumangguangan sebaliknya, tinggal menjaga kampung halaman, dan membenamkan dirinya dalam kumpulan kebijaksanaan yang ditinggalkan leluhur. Dua cara berbeda, dengan satu tujuan, mencari kebijaksanaan. Dua perjuangan, dengan satu cita-cita, mengatur rakyat agar sejahtera.
Masa berganti, musim bertukar, keduanya bertemu. Dengan kematangan yang semakin baik, sudah tentu. Juga dengan kepala yang semakin banyak tahu. Lalu keduanya duduk berbagi ilmu. Melerai perseteruan yang pernah terjadi bertahun-tahun berlalu. Dan akhirnya bersepakat untuk saling bahu-membahu. Menjadikan rakyat semakin pintar dan maju. Melupakan egoisme masing-masing, mendahulukan kepentingan orang banyak, karena itu lebih penting.
Demikianlah, legenda itu hidup berabad-abad. Disampaikan ke anak-cucu sebagai pelajaran tentang martabat. Kedua sistem tetap hidup hingga kini, berdampingan dan bersahabat. Saling melengkapi dalam jalinan yang erat. Menjadi dua partai yang semacam Partai Republik dan Partai Demokrat di Amerika Serikat. Menjadi sejalur rel, dua garis yang berjalan bersama, tak renggang, meski juga tak akan pernah merapat.


Batu basurek ( prasasti tentang Adityawarman )

Batu basurek


Batu basurek terletak didesa kubu rajo nagari lima kaum berjarak 4 km dari batu sangkar. Batu basurek ini terletak di bagian atas makam raja Adityawarman.Prasasti batu basurek ini ditulis dengan tulisan jawa kuno berbahasa sanskerta. Batu basurek ini lebarnya 25 cm tingginya 80 cm dengan ketebalan 10 cm dan berat sekitar 50 kg . 

Batu basurek ini telah berumur 659 tahun.penemuan prasasti ini pertama kali ditulis pada
16 Desember 1880 oleh P.H. Van Hengst, Asisten Residen Tanah Datar. Prof. H Kern, seorang ahli dari Belanda,Ia orang yang pertama kali membahas prasasti dengan tulisan Jawa Kuno berbahasa Sanskerta itu. Pada 1917 dia menerjemahkan isinya adalah: " Adityawarman maju perkasa, ia penguasa Kanakamedinindra atau Suwarnadwipa (Sumatera atau Tanah Emas). Ayahnya Adwayawarman. Dia keluarga Indra."
Adityawarman lahir dari rahim Dara Jingga, putri raja Dharmasraya yang terletak di tepi Sungai Batanghari, Jambi. Ayahnya, Adwayawarman tadi, kerabat Keraton Singosari.

Tersebutlah, pada 1292 Kublai Khan dari Cina menyerang Singosari. Dara Jingga dan saudaranya, Dara Petak, membawa tentara membantu Singosari. Sayang, Singosari jatuh, dan akhirnya dikuasai Jayakatwang. Kemudian Raden Wijaya menggeser Jayakatwang dan mengganti nama kerajaan itu menjadi Majapahit. Raden Wijaya menikah dengan Dara Petak. Dara Jingga bercinta dengan Adwayawarman. Setelah menikah, Dara Jingga mengajak suaminya kembali ke Dharmasraya -- dan lahirlah Adityawarman.

Setelah melakukan berbagai jasa untuk Majapahit, akhirnya Adityawarman jadi raja di Dharmasraya. Dia memindahkan pusat kerajaannya dari Siguntur (Dharmasraya) ke Pagaruyung.

Sampai sekarang di Pagaruyung masih ada perbedaan pendapat apakah Adityawarman itu raja Minangkabau atau hanya raja Pagaruyung. Sebab, pada waktu itu yang dirajakan di Limo Kaum, Pariangan, dan Tanah Datar lainnya, adalah Datuk Parpatih Nan Sabatang dan Datuk Katamanggungan. "Adityawarman tak lebih seorang sumando,(suami dari orang Minangkabau).

Kerajaan Pagaruyung

1. Sejarah

 Arca Amoghapasa di Museum Nasional Republik Indonesia, Jakarta.

Kerajaan Pagaruyung adalah sebuah kerajaan yang pernah berdiri, meliputi provinsi Sumatra Barat sekarang dan daerah-daerah di sekitarnya. Nama kerajaan ini berasal dari ibukotanya, yang berada di nagari Pagaruyung. Kerajaan ini didirikan oleh seorang pangeran dari Majapahit bernama Adityawarman pada tahun 1347. Kerajaan Pagaruyung menjadi Kesultanan Islam sekitar tahun 1600-an. Walaupun Adityawarman merupakan pangeran dari Majapahit, ia sebenarnya memiliki darah Melayu. Dalam sejarahnya, pada tahun 1286, Raja Kertanegara menghadiahkan arca Amogapacha untuk Kerajaan Darmasraya di Minangkabau. Sebagai imbalan atas pemberian itu, Raja Darmas Raya memperkenankan dua putrinya, Dara Petak dan Dara Jingga untuk dibawa dan dipersunting oleh bangsawan Singosari. Dari perkawinan Dara Jingga inilah kemudian lahir Aditywarman. Ketika Singosari runtuh, mucul Majapahit. Adityawarman merupakan seorang pejabat di
Majapahit. Suatu ketika, ia dikirim ke Darmasraya sebagai penguasa daerah tersebut. Tapi kemudian, Adityawarman justru melepaskan diri dari Majapahit. Dalam sebuah prasasti bertahun 1347, disebutkan bahwa Aditywarman menobatkan diri sebagai raja atas daerah tersebut. Daerah kekuasaannya disebut Pagaruyung, karena ia memagari daerah tersebut dengan ruyung pohon kuamang, agar aman dari gangguan pihak luar. Karena itulah, negeri itu kemudian disebut dengan Pagaruyung. Kekuasaan raja Pagaruyung sudah sangat lemah pada saat menjelang perang Padri, meskipunraja masih tetap dihormati. Daerah-daerah di pesisir barat jatuh ke dalam pengaruh Aceh, sedangkan Inderapura di pesisir selatan praktis menjadi kerajaan merdeka meskipun resminya masih tunduk pada raja Pagaruyung. Kerajaan ini runtuh pada masa Perang Padri akibat konflik yang terjadi dan campur tangan kolonial Belanda pada pertengahan abad ke-19.Sebelum kerajaan ini berdiri, sebenarnya masyarakat di wilayah Minangkabau sudah memiliki sistem politik semacam konfederasi yang merupakan lembaga musyawarah dari berbagai nagari dan luhak. Dilihat dari kontinuitas sejarah, Kerajaan Pagaruyung merupakan semacam perubahan sistem administrasi semata bagi masyarakat setempat (Suku Minang).

2.Wilayah Kekuasaan

Wilayah pengaruh politik Pagaruyung dapat dilacak dari pernyataan berbahasa Minang ini: dari Sikilang Aia Bangih hingga Taratak Aia Hitam. Dari Durian Ditakuak Rajo hingga Sialang Balantak Basi. Sikilang Aia Bangih adalah batas utara, sekarang di daerah Pasaman Barat, berbatasan dengan Natal, Sumatera Utara. Taratak Aia Hitam adalah daerah Bengkulu. Durian Ditakuak Rajo adalah wilayah di Kabupaten Bungo, Jambi. Yang terakhir, Sialang Balantak Basi adalah wilayah di Rantau Barangin, Kabupaten Kampar, Riau sekarang.

3. Struktur Pemerintahan

Cap Sultan Alam Bagagarsyah, raja terakhir Pagaruyung 

Kerajaan Pagaruyung membawahi lebih dari 500 nagari yang merupakan satuan wilayah otonom. Nagari-nagari ini merupakan dasar kerajaan, dan mempunyai kewenangan yang luas dalam memerintah. Misalnya nagari punya kekayaan sendiri dan memiliki pengadilan adat sendiri. Beberapa buah nagari terkadang membentuk persekutuan. Misalnya Bandar X adalah persekutuan sepuluh nagari di selatan Padang. Kepala persekutuan ini diambil dari kaum penghulu, dan sering diberi gelar raja. Raja kecil ini bertindak sebagai wakil Raja Pagaruyung. Di daerah darek umumnya nagari-nagari ini diperintah oleh para penghulu, yang mengepalai masing-masing suku yang berdiam dalam nagari tersebut. Penghulu dipilih oleh anggota suku, dan warga nagari mengendalikan pemerintahan melalui para penghulu mereka. Keputusan pemerintahan diambil melalui kesepakatan para penghulu, setelah dimusyawarahkan terlebih dahulu. Di daerah rantau seperti di Pasaman kekuasaan penghulu ini sering berpindah kepada rajaraja kecil, yang memerintah turun temurun. Di Inderapura raja mengambil gelar sultan. Raja Pagaruyung mengendalikan secara langsung daerah rantau. Ia boleh membuat peraturan dan memungut pajak di sana. Daerah-daerah rantau ini adalah Pasaman, Kampar, Rokan, Indragiri dan Batanghari. Di daerah inti Kerajaan Pagaruyung (di Luhak Nan Tigo) meskipun tetap dihormati ia hanya bertindak sebagai penengah. Untuk melaksanakan tugas-tugasnya Raja Pagaruyung dibantu oleh dua orang raja lain, Raja Adat yang berkedudukan di Buo, dan Raja Ibadat yang berkedudukan di Sumpur Kudus. Raja Adat memutuskan masalah-masalah adat sedangkan Raja Ibadat mengurus masalah-masalah agama. Bila ada masalah yang tidak selesai barulah dibawa ke Raja Pagaruyung yang disebut sebagai Raja Alam. Selain kedua raja tadi Raja Alam dibantu pula oleh Basa Ampek Balai, artinya orang besar yang berempat. Mereka adalah:

1. Bandaro (bendahara) atau Tuanku Titah yang berkedudukan di Sungai Tarab. Kedudukannya hampir sama     seperti Perdana Menteri. Bendahara ini dapat dibandingkan dengan jabatan bernama sama di Kesultanan         Melaka
2. Makhudum yang berkedudukan di Sumanik. Bertugas memelihara hubungan dengan rantau dan kerajaan         lain.
3. Indomo yang berkedudukan di Saruaso. Bertugas memelihara adat-istiadat
4. Tuan Kadi berkedudukan di Padang Ganting. Bertugas menjaga syariah agama Tuan Gadang di Batipuh        tidak termasuk dalam Basa Ampek Balai, namun derajatnya sama. Tuan Gadang bertugas sebagai      panglima angkatan perang. Sebagai aparat pemerintah masing-masing Basa Ampek Balai punya daerah-daerah  tertentu dimana mereka berhak menagih upeti sekedarnya. Daerah-daerah ini disebut rantau  masing-masing.Bandaro memiliki rantau di Bandar X, rantau Tuan Kadi adalah di VII Koto dekat Sijunjung,      Indomo punya rantau di bagian utara Padang sedangkan Makhudum punya rantau di Semenanjung Melayu,    di daerah pemukiman orang Minangkabau di sana.

4. Pengaruh Hindu

Pengaruh Hindu di Pagaruyung berkembang kira-kira pada abad ke-13 dan ke-14, yaitu pada masa pengiriman Ekspedisi Pamalayu oleh Kertanagara, dan pada masa pemerintahan Adityawarman dan putranya Ananggawarman. Kekuasaan mereka diperkirakan cukup kuat mendominasi Pagaruyung dan wilayah Sumatera bagian tengah lainnya. Pada prasasti di arca Amoghapasa bertarikh tahun 1347 Masehi (Sastri 1949) yang ditemukan di Padang Roco, hulu sungai Batang Hari, terdapat puji-pujian kepada raja Sri Udayadityavarma, yang sangat mungkin adalah Adityawarman. (Prasasti Adityawarman)-->>>>

Walaupun demikian, keturunan Adityawarman dan Ananggawarman selanjutnya agaknya bukanlah raja-raja yang kuat. Pemerintahan kemudian digantikan oleh orang Minangkabau sendiri yaitu Rajo Tigo Selo, yang dibantu oleh Basa Ampat Balai. Daerah-daerah Siak, Kampar dan Indragiri kemudian lepas dan ditaklukkan oleh Kesultanan Malaka dan Kesultanan Aceh [2], dan kemudian menjadi negara-negara merdeka.

5. Pengaruh Islam



Pengaruh Islam di Pagaruyung berkembang kira-kira pada abad ke-16, yaitu melalui para musafir dan guru agama yang singgah atau datang dari Aceh dan Malaka. Salah satu murid ulama Aceh yang terkenal Syaikh Abdurrauf Singkil (Tengku Syiah Kuala), yaitu Syaikh Burhanuddin Ulakan, adalah ulama yang dianggap pertama-tama menyebarkan agama Islam di Pagaruyung. Pada abad ke-17, Kerajaan Pagaruyung akhirnya berubah menjadi kesultanan Islam. Raja Islam yang pertama dalam tambo adat Minangkabau disebutkan bernama Sultan Alif.

Dengan masuknya agama Islam, maka aturan adat yang bertentangan dengan ajaran agama Islam mulai dihilangkan dan hal-hal yang pokok dalam adat diganti dengan aturan agama Islam. Papatah adat Minangkabau yang terkenal: “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”, yang artinya adat Minangkabau bersendikan pada agama Islam, sedangkan agama Islam bersendikan pada AI-Quran.

6. Hubungan dengan Belanda dan Inggris

Ketika VOC berhasil mengalahkan Kesultanan Aceh pada peperangan tahun 1667, melemahlah pengaruh Aceh pada Pagaruyung. Hubungan antara daerah-daerah rantau dan pesisir dengan pusat Kerajaan Pagaruyung menjadi erat kembali. Saat itu Pagaruyung merupakan salah satu pusat perdagangan di pulau Sumatera, dikarenakan adanya produksi emas di sana. Demikianlah hal tersebut menarik perhatian Belanda dan Inggris untuk menjalin hubungan dengan Pagaruyung. Terdapat catatan bahwa tahun 1684, seorang Portugis bernama Tomas Dias melakukan kunjungan ke Pagaruyung atas perintah gubernur jenderal Belanda di Malaka. Sejak saat itu mulailah terbina komunikasi dan perdagangan antara Belanda (VOC) dan Pagaruyung.

Sebagai akibat konflik antara Inggris dan Perancis dalam Perang Napoleon dimana Belanda ada di pihak Perancis, maka Inggris memerangi Belanda dan berhasil menguasai pantai barat Sumatera Barat antara tahun 1795 sampai dengan tahun 1819. Thomas Stamford Raffles mengunjungi Pagaruyung di tahun 1818, dimana saat itu sudah mulai terjadi peperangan antara kaum Padri dan bangsawan (kaum adat) Pagaruyung. Saat itu Raffles menemukan bahwa ibukota kerajaan mengalami pembakaran akibat peperangan yang terjadi. Setelah terjadi perdamaian antara Inggris dan Belanda di tahun 1814, maka Belanda kembali memasuki Padang pada bulan Mei tahun 1819. Belanda memastikan kembali pengaruhnya di pulau Sumatera dan Pagaruyung, dengan ditanda-tanganinya Traktat London di tahun 1824 dengan Inggris.

7. Runtuhnya Pagaruyung


Kekuasaan raja Pagaruyung sudah sangat lemah pada saat-saat menjelang perang Padri, meskipun raja masih tetap dihormati. Daerah-daerah di pesisir barat jatuh ke dalam pengaruh Aceh, sedangkan Inderapura di pesisir selatan praktis menjadi kerajaan merdeka meskipun resminya masih tunduk pada raja Pagaruyung.

Pada awal abad ke-19 pecah konflik antara kaum Padri dan golongan bangsawan (kaum adat). Dalam satu pertemuan antara keluarga kerajaan Pagaruyung dan kaum Padri pecah pertengkaran yang menyebabkan banyak keluarga raja terbunuh. Namun Sultan Muning Alamsyah selamat dan melarikan diri ke Lubuk jambi.

Karena terdesak kaum Padri, keluarga kerajaan Pagaruyung meminta bantuan kepada Belanda. Pada tanggal 10 Februari 1821 Sultan Alam Bagagarsyah, yaitu kemenakan dari Sultan Muning Alamsyah, beserta 19 orang pemuka adat lainnya menandatangani perjanjian penyerahan kerajaan Pagaruyung kepada Belanda. Sebagai imbalannya, Belanda akan membantu berperang melawan kaum Padri dan Sultan diangkat menjadi Regent Tanah Datar mewakili pemerintah pusat.

Setelah menyelesaikan Perang Diponegoro di Jawa, Belanda kemudian berusaha menaklukkan kaum Padri dengan kiriman tentara dari Jawa dan Maluku. Namun ambisi kolonial Belanda tampaknya membuat kaum adat dan kaum Padri berusaha melupakan perbedaan mereka dan bersekutu secara rahasia untuk mengusir Belanda. Pada tanggal 2 Mei 1833 Yang Dipertuan Minangkabau Sultan Alam Bagagarsyah, raja terakhir Kerajaan Pagaruyung, ditangkap oleh Letnan Kolonel Elout di Batusangkar atas tuduhan pengkhianatan. Sultan dibuang ke Betawi, dan akhirnya dimakamkan di pekuburan Mangga Dua.

8. Wilayah kekuasaan

Menurut Tomé Pires dalam Suma Oriental, tanah Minangkabau selain dataran tinggi pedalaman Sumatera tempat dimana rajanya tinggal, juga termasuk wilayah pantai timur Arcat (antara Aru dan Rokan) ke Jambi dan kota-kota pelabuhan pantai barat Panchur (Barus), Tiku dan Pariaman. Dan juga dari catatan tersebut dinyatakan tanah Indragiri, Siak dan Arcat merupakan bagian dari tanah Minangkabau. Namun belakangan daerah-daerah rantau seperti Siak, Kampar dan Indragiri kemudian lepas dan ditaklukkan oleh Kesultanan Malaka dan Kesultanan Aceh.

Wilayah pengaruh politik Kerajaan Pagaruyung adalah wilayah tempat hidup, tumbuh, dan berkembangnya kebudayaan Minangkabau. Wilayah ini dapat dilacak dari pernyataan tambo (legenda adat) berbahasa Minang ini:
Dari Sikilang Aia Bangih
Hingga Taratak Aia Hitam
Dari Durian Ditakuak Rajo
Hingga Sialang Balantak Basi

Sikilang Aia Bangih adalah batas utara, sekarang di daerah Pasaman Barat, berbatasan dengan Natal, Sumatera Utara. Taratak Aia Hitam adalah daerah Bengkulu. Durian Ditakuak Rajo adalah wilayah di Kabupaten Bungo, Jambi. Yang terakhir, Sialang Balantak Basi adalah wilayah di Rantau Barangin, Kabupaten Kampar, Riau sekarang. Secara lengkapnya, di dalam tambo dinyatakan bahwa Alam Minangkabau (wilayah Kerajaan Pagaruyung) adalah sebagai berikut:

Nan salilik Gunuang Marapi                    Daerah Luhak nan Tigo
Saedaran Gunuang Pasaman                   Daerah di sekeliling Gunung Pasaman
Sajajaran Sago jo Singgalang                 Daerah sekitar Gunung Sago dan Gunung Singgalang
Saputaran Talang jo Kurinci                    Daerah sekitar Gunung Talang dan Gunung Kerinci
Dari Sirangkak nan Badangkang             Daerah Pariangan Padang Panjang dan sekitarnya
Hinggo Buayo Putiah Daguak                 Daerah di Pesisir Selatan hingga Muko-Muko
Sampai ka Pintu Rajo Hilia                     Daerah Jambi sebelah barat
Hinggo Durian Ditakuak Rajo                 Daerah yang berbatasan dengan Jambi
Sipisau-pisau Hanyuik                            Daerah sekitar Indragiri Hulu hingga Gunung Sailan
Sialang Balantak Basi                             Daerah sekitar Gunung Sailan dan Singingi
Hinggo Aia Babaliak Mudiak                  Daerah hingga ke rantau pesisir sebelah timur
Sailiran Batang Bangkaweh                    Daerah sekitar Danau Singkarak dan Batang Ombilin
Sampai ka ombak nan badabua              Daerah hingga Samudra Indonesia
Sailiran Batang Sikilang                          Daerah sepanjang pinggiran Batang Sikilang
Hinggo lauik nan sadidieh                      Daerah yang berbatasan dengan Samudra Indonesia
Ka timua Ranah Aia Bangih                   Daerah sebelah timur Air Bangis
Rao jo Mapat Tunggua                          Daerah di kawasan Rao dan Mapat Tunggua
Gunuang Mahalintang                            Daerah perbatasan dengan Tapanuli selatan
Pasisia Banda Sapuluah                        Daerah sepanjang pantai barat Sumatra
Taratak Aia Hitam                                Daerah sekitar Silauik dan Lunang
Sampai ka Tanjuang Simalidu               Daerah hingga Tanjung Simalidu
Pucuak Jambi Sambilan Lurah              Daerah sehiliran Batang Hari


sumber : http://www.indralasmana.co.cc/2010/09/kerajaan-pagaruyung.html 

Foto Lembah Anai Tempo Dulu

Lembah Anai merupakan salah satu tempat wisata di Kota Padang Panjang. Tempat ini berjarak sekitar kurang lebih 60 Km dari pusat Ibukota Provinsi Sumatera Barat. Alamnya nan elok dan kehidupan sosial masyarakatnya yang masih jauh dari hingar bingar kehidupan di kota. Daerah ini adalah tempat yang baik untuk rekreasi bersama anggota keluarga.

Postingan saya kali ini adalah ingin membawa pembaca atau pecinta gambar dan foto tempo dulu untuk melihat bagaimana keadaan lembah Anai ini pada saat penjajahan Belanda di negeri kita ini.

Lereng tebing di rel sepanjanh Lembah Anai
Lereng tebing di rel sepanjang Lembah Anai



Lembah Anai, sebelum ada jalur kereta api
Lembah Anai, sebelum ada jalur kereta api
Saya sangat terkejut saat melihat foto lembah Anai yang ada pada album foto yang bernam Ronald Chandra di sebuah akun jejaring sosial, gambar di bawah bisa menjelaskan bagaiman keadaan atau suasana daerah itu pada masa lampau. Sangat begitu terharu saya ketika melihat jembatan rel kereta api yang ada di foto tersebut, dan pada saat ini jembatan itu masih kokoh berdiri. Tapi sayangnya sekarang kereta api yang melalui lembah anai saat ini tidak aktif sehingga di seberapa bagian relnya di penuhi dengan semak belukar.

Peresmian jalur kereta api Padang Panjang pertama kali, tahun 
1895
Peresmian jalur kereta api Padangpanjang pertama kali, tahun 1895

Pembukaan jalur kereta api Padang Panjang, sekitar tahun 1895
Pembukaan jalur kereta api Padangpanjang, sekitar tahun 1895

Stasiun Padangpanjang tahun 1880-1900
Stasiun Padangpanjang tahun 1880-1900

Lembah Anai (1885-1895)
Lembah Anai (1885-1895)

Terowongan Anai, tahun 1910
Terowongan Lembah Anai, tahun 1910

Keadaan geografi Provinsi Sumatera Barat yang berada pada patahan Sumatera, begitu yang sering disebut oleh para ahli. Mengakibatkan daerah ini sering di landa bencana salah satunya yaitu gempa bumi. Orang-orang tua dahulupasti tidak akan pernah melupakan tragedi gempa yang meluluh lantakkan kota ini  pada tanggal 28 Juni 1926, di mana gempa sebesar 7,8 SR mengguncang Padang Panjang dan kota sekitarnya.
Hancurnya Stasiun Padangpanjang setelah gempa tahun 1926
Hancurnya Stasiun Padangpanjang setelah gempa tahun 1926

Akibat gempa tahun 1926
Akibat gempa tahun 1926

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya 16 April 2010 kawasan di daerah lembah Anai terkena longsor dan membuat jalan antar kota putus total dan mengakibatkan macet yang sangat parah. Ini diakibatkan hujan yang turun sangat deras dalam seminggu itu dan membuat debit air terjun di lembah itu meningkat. Karena debit air yang kuat serta dinding pembatas jalan dengan kolam air terjun yang kurang kuat mengakibatkan jalan akhirnya runtuh.

Kerusakan Lembah Anai karena longsor dan banjir tahun 1900-1940

Kerusakan Lembah Anai karena longsor dan banjir tahun 1900-1940
Kerusakan Lembah Anai karena longsor dan banjir tahun 1900-1940


Jalur transportasi darat yang melalui lembah Anai ini merupakan jalan antar kota dan provinsi yang ada di Sumbar. Menghubungkan daerah darek dan rantau.

Jalur kereta arah Kayu Tanam sekitar tahun 1895
Jalur kereta arah Kayu Tanam sekitar tahun 1895

Pembangunan rel kereta Air Putih Payakumbuh tahun 1913
Pembangunan rel kereta Air Putih Payakumbuh tahun 1913

Stasiun Kereta Payakumbuh sekitar tahun 1900
Stasiun Kereta Payakumbuh sekitar tahun 1900


Pada saat ini ketika saya melewati daerah ini saya langsung teringat dengan ramainya kera-kera liar bermain di tepi jalan dan sekitar bibir jurang. Jangan sampai anda lewatkan ketika anda melewati daerah ini, rugi rasanya kalau anda tidak mencoba makanan khas daerah tersebut yaitu: Paragede Jaguang, sangat enak dimakan ketika masih panas dan sesuai dengan iklim daerah itu yang dingin.





foto:Ronald Chandra

Asal Usul Minangkabau

asal usul minangkabau
Suku bangsa Minangkabau tidak ingin merasa untuk mencatatkan namanya dalam sejarah, tetapi mereka memiliki keinginan yang sangat kuat untuk mengetahui asal usul suku bangsa mereka. Mereka tidak mencatat sejarah tetapi mereka menggunakan tambo. Dunia tambo dalam suku minangkabau berarti dunia tanpa catatan sejarah tetapi pada waktu yang sama mengandungi unsur dari sejarah.

Pada awalnya tambo ini mengisahkan proses pembentukan dari Alam Minangkabau. ” Pada awalnya yang ada hanya lah Nur Muhammad, dan melaluinya Allah menciptakan alam, langit dan bumi". Kemudian dan dari cahaya (nur) ini lah diciptakannya malaikat dan Nabi Adam a.s sebagai manusia pertama. Kemudian Allah memerintahkan Nabi Adam dan putra-putrinya berada kedunia, yang pada masa itu masih mencari dan melalui proses kesempurnannya. Adam dan Hawa mendapat tiga puluh sembilan zuriat. Putra dan putrinya kawin satu dengan yang lain, kecuali putra mereka yang paling bungsu. Beliau direncanakan untuk dikawinkan dengan seseorang bidadari dari surga, kerana Allah menginginkan keturunanya menjadi raja di dunia. Beliau diberi nama Iskandar Zulkarnain (bertanduk dua) karena tanduk emasnya yang melambangkan dua kerajaanya yang berbeda di timur dan barat, diutara dan selatan.

Iskandar Zulkarnai akhirnya mempunyai tiga orang putra. Yang tertua diberi nama Maharaja Aliif, anak yang kedua diberi nama Maharaja Depang dan yang bungsu dinamai dengan Maharaja Diraja. Setelah mangkatnya Iskandar Zulkarnain, tiga kakak beradik ini akhirnya berlayar kearah timur . Ketika mereka hampir sampai di wilayah Langkapuri (Sri Lanka) terjadilah kesalahan pahaman tentang siapa yang patut mewarisi untuk menjadi pewaris mahkota yang ditinggalkan oleh Iskandar Zulkarnain. Disaat terjadinya perselisihan tersebut mahkota yang mereka perebutkan itu terlepas dari tangan ketiga beradik dan jatuh kedalam laut. Seorang penasehat Mahara Diraja yang bernama Cati Bilang Pandai yang cakap dan bijak dalam berbicara, Cati Bilang Pandai memberikan nasehat dan menyimpulkan atas kejadian ini, bahwasanya baginda telah mendapat semula mahkota itu kembali. Setelah kejadian ini akhirnya ketiga kakak beradik ini akhirnya berpisah dan mencari arah tujuannya masing-masing beserta pengikutnya. Maharaja Alif pergi ke arah barat atau Rom (Negeri Turki), Maharaja Depang berjalan/berlayar kearah utara (Jepang & Cina) dan Maharaja Diraja menyusuri arah selatan dan tinggal di pulau Perca atau Andalas (Sumatera) dan memerintah nusantara.

Sesampai di pulau Sumateralah inilah mereka berlabuh dan mencari tempat yang paling tinggi yaitu dipuncak Gunung Merapi dan beliau diiringi oleh empat pengiringnya. Seekor kucing (Kucing Siam), Seekor harimau betina (Harimau Campa), Seekor kambing (Kambing Hutan dan Seekor anjing (Anjing Mu’lium ) [ Mengikut Rasjid Manggis, keempat-empat binantang ini sebenarnya melambangkan adalah orang berbangsa Minang – Kucing siam – Patani, Harimau Campa – Burma & Kemoja (Tenggara Nusantara) , Anjing Mulim - India Selatan dan Parsi….] dan semua nya bunting dan melahirkan anak perempuan. Maharaja Diraja mengambil kanak-kanak ini sebagai anak angkat. Setelah mereka dewasa mereka dikawinkan dengan tukang perbaiki kapal .

Setelah sekian tahun, air laut pun surut. Perlahan tanah mulai tampak luas dan Maharaja Diraja beserta pengikutnya turun dari puncak Gunung Merapi. Dikaki gunung itulah mereka membuat pemukiman dan penduduk pun mulai bertambah, dan akhirnya membentuk nagari. Hukum adat pun dibuat dan ketua akhirnya dipilih. Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih nan Sabatang yang keturunan dari Maharaja DIraja tapi berlainan ibu membuat dua jenis tradisi politik dan perundangan dan akhirnya masyarakat semakin bertambah dan terciptalah Alam Minangkabau yang masyhur. [Terdapat satu rujukan kepada kapal Nabi Nuh a.s dalam epik Maharaja Diraja Marsden mencatatakan bahwasanya Datuk Katumanggungan dan Datuk Perpatih adalah termasuk dua dari empat puluh orang pengiring Nabi Noh dalam kapal tersebut. Dipercayai mereka adalah saudara tiri dari ibu yang sama].