Fakta-fakta Unik Tentang Rumah Makan Padang

18 April 2014

Mau makan di Restoran Padang….bukan berarti harus ke Padang…Masih ingat kan cuplikan lagu anak yang dinyanyikan ole Enno Lerian dulu? Ya, rumah makan/ restoran padang bisa ditemui di mana saja di Indonesia bahkan katanya ada juga di luar negeri. Di daerah Jabodetabek saja, rumah makan padang yang terdata mencapai 20.000 banyaknya.


Yang suka masakan padang, bukan orang Minang saja. Di luar suku Minang, banyak yang suka. Ini dikarenakan menu di rumah makan padang banyak yang bersantan dan berlemak hingga berasa gurih di lidah, ditambah lagi dengan bumbu rempah hingga terasa enak.

Sebagian kita mungkin tahu bahwa salah satu keunikan yang langsung bisa dirasakan tatkala makan di rumah makan padang adalah cara menating/ menyajikan makanan, yakni membawanya dengan cara bertumpuk di satu tangan. Dan satu hal lagi, bila kita datang, tak akan pernah disodorkan daftar menu karena cara memesan hanya dua, yakni prasmanan dan dihidangkan. Prasmanan, pemesan langsung menghampiri penyaji (tukang sanduak) dan memberi tahu mau makan dengan lauk apa. Cara ke dua, semua lauk dihidangkan di meja tempat kita duduk dan kita bisa memilih lauk yang disuka. Nanti setelah selesai, pramusaji tinggal menghitung lauk apa saja yang dimakan. Biasanya cara ini untuk pengunjung yang datang lebih dari dua orang/ berombongan. Saya rasa keunikan ini sudah banyak diketahui orang, apalagi bagi yang suka makan di rumah makan padang

Sebenarnya ada beberapa keunikan lain yang terdapat di rumah makan padang, diantaranya pembagian tugas karyawan yang bekerja. Di rumah makan padang, rata-rata karyawannya adalah laki-laki. Kalau pun ada yang perempuan hanya yang bertugas sebagai kasir. Sebagian besar karyawan tersebut adalah urang awak yang direkrut dari kampung dan bisa jadi masih berkerabat. Ada beberapa pembagian kerja di antara mereka, dan digaji tidak menurut ketentuan yang lazim atau katakanlah sesuai UMP. Besarnya gaji yang mereka terima tergantung posisinya sebagai apa. Hitung-hitungannya pakai sistem yang disebut mato (mata dalam bahasa Indonesia). Mungkin bisa dianalogikan dengan istilah ‘poin’. Poin inilah nanti yang dikonversi ke rupiah. Tapi yang jelas mereka tidak mendapatkan gaji itu setiap bulan, tapi pertiga bulan atau perseratus hari. Aje gile! Lama banget ya? Trus kalau si karyawan butuh uang untuk beli keperluan lain bagaimana? Dan kenapa harus menunggu tiga bulan?

Jawabannya begini: Pembagian gaji itu berdasarkan keuntungan yang diperoleh, dan penghitungannya biasanya pertiga bulan/ perseratus hari. Kalau karyawan butuh uang untuk suatu keperluan ia bisa kasbon dulu, dan nanti dipotong saat gajian. Untuk biaya makan dan tempat tinggal, sudah ditanggung dan disediakan sama pemilik/ pengelola.

Karyawan rumah makan dibagi berdasarkan tugas:
Tukang Masak. Bertugas memasak Untuk menjaga cita rasa, tentu saja yang direkrut adalah orang minang yang pintar memasak. Di tangan merekalah masakan enak atau tidaknya. Karena posisinya sangat penting, maka tukang masak bisa mendapat bagian 3 hingga 4 mato. Jam kerjanya lebih awal daripada karyawan lain. Setelah selesai melaksanakan tugasnya, tukang masak ini bisa istirahat, dan nanti sore, bisa turun ke floor menggantikan temannya yang istirahat.

Tukang Sanduak/ Tukang Saji. Bertugas menyajikan hidangan. Area kerjanya, di bagian depan. Disebut tukang sanduak, karena merekalah yang menyendokkan makanan ke piring dan menghidangkan ke pengunjung. Tukang Sanduak ini mendapat bagian 2-3 mato.

Tukang Aie/ Tukang Air. Mereka bertugas menyediakan air minum, aie kabasuah (kobokan), dan menyediakan minuman seperti es teh, teh manis, es jeruk, atau minuman lain yang dipesan pengunjung. Tukang air mendapat 2 mato.

Kasir. Bertugas menerima pembayaran dari pengunjung. Posisi ini penting karena menyangkut urusan uang. Biasanya diserahkan pada orang yang dipercaya dan bisa jadi sanak pengelola/pemilik. Dalam penggajian mendapat 2-3 mato.

Tukang Cuci Piring. Bertugas mencuci piring-piring kotor. Ini merupakan posisi paling rendah, dan dalam penggajian dapat bagian 1 mato.

Tukang Antar/ Delivery. Sebagian rumah makan melayani delivery order. Tapi bila tak melayani delivery order, posisi ini tidak ada. Dalam penggajian mendapat 1-2 mato.

Tentu timbul pertanyaan, mengapa sih pembagian berdasarkan seperti ini? Jawabannya adalah sesuai dengan falsafah yang dianut berat sama dipikul ringan sama dijinjing hingga tercipta rasa keadilan. Disamping itu menanamkan rasa memiliki (sense of belonging). Semakin banyak keuntungan semakin besar porsi yang mereka dapatkan. Jadi mereka berusaha melayani pembeli lebih baik.

Dari seorang teman yang pernah bekerja di rumah makan, saya pernah menanyakan, berapa besaran 1 mato kalau dikonversi ke rupiah? Jawabannya tergantung keuntungan yang diperoleh tadi. Tapi ada juga rumah makan yang menetapkan secara fixed. Rupiahnya berkisar 750 ribu- 1 juta rupiah. Kalau untuk yang fixed ini, dihitung perbulan tapi pembayaran tetap di lakukan pertiga bulan atau perseratus hari.

Kaderisasi juga dilakukan. Bila seorang karyawan dari level rendah dengan kinerja yang bagus seperti tukang cuci piring, bisa diangkat menjadi asisten tukang masak atau naik menjadi tukang air, atau menjadi tukang sanduak.

Perpindahan karyawan dari satu rumah makan ke rumah makan lain bisa saja terjadi karena besaran mato yang diterima. Bila seorang karyawan A berencana pindah ke rumah makan lain, pasti yang ditanya berapa 1 mato? Kalau 1 mato yang ditawarkan lebih besar, tentu ia menjadi lebih tertarik untuk pindah.

Keunikan yang lain di rumah makan padang, adalah sebagian mendatangkan beras dari Sumatera Barat. Jenis beras yang sesuai dengan lidah orang Minang adalah yang pera. Jenis pulen tak begitu disukai karena berasa ketan. Tapi Ane pernah juga mendapati rumah makan padang di Jakarta menggunakan beras pulen. Mungkin disesuaikan dengan lidah orang non Minang.

Biasanya setiap rumah makan mempunyai menu andalan atau menu spesifik yang membuat beda dengan rumah makan lain. Ada yang menjadi andalannya Ayam Pop, Belut Goreng, Dendeng Batokok, Itik lado Hijau, gulai Kepala Ikan, Gulai Ikan Karang, dan lain sebagainya. Namun menu standar yang lazim tersedia di setiap rumah makan padang adalah Rendang, Dendeng Balado, Ayam Goreng Bumbu, Ayam Goreng Balado, Ayam Bakar, Ikan Bakar, Ikan Goreng Balado, Gulai Tunjang, Gajebo, Gulai Tambonsu, Gulai Cancang, Pangek Ikan. Adapun sayuran yang lazim tersedia adalah Gulai Cubadak (gulai nangka), rebusan Pucuak Ubi (daun singkong), rebusan taoge dan kol, Sayur Kapau (gulai sayur campuran nangka, kol, kacang panjang dan rebung).

Keunikan lain adalah, sebagian besar yang mengelola/ pemilik rumah makan padang, adalah orang Minang yang berasal dari daerah Pariaman (kampungnya Whulandary Herman, Miss Indonesia 2013 itu). Orang Minang dari daerah lain seperti seperti Agam/ Bukitinggi, lebih banyak yang jualan pakaian, sepatu, atau pernak-pernik lainnya.

Satu lagi keunikannya, rumah makan padang hanya terdapat di luar sumatera barat. Bila Agan berkunjung ke ranah Minang, tak kan pernah Agan temui rumah makan padang. Jadi betul yang dikatakan Enno Lerian dalam lagunya. Sampai takewer-kewer nyari rumah makan padang di Sumbar tidak bakal ketemu. Yang ada hanyalah rumah makan dan restoran! 


sumber:
kaskus.co.id

Adab Makan di Ranah Minang

12 April 2014



Ado adab/caro makan (baradaik) di nagari awak nan kini alah samakin langka dikarajoan urang, makan basamo katiko baralek sacaro adaik, jo caro bajamba. Makan basamo, balimo sampai baranam urang maadok-i ciek piriang gadang. Sacaro sederhana nampak bahaso urusanno indak labiah dari 'makan basamo', tapi dalam kanyataanno banyak aturan-aturan nan musti dikatahui dek urang-urang nan sato makan, sabab kalau sasaurang salah, awakno kadapek cap indak bataratik, atau labiah jauah indak baradaik.

makan bajamba samo ado dikarajoan rombongan laki-laki ataupun urang padusi. Untuak laki-laki, katiko makan alah sabana ka dimuloi, sasudah salasai pasambahan untuak mampabasoan urang nan sadang adok dalam sidang karapatan untuak kasamo makan, mako si pangka, atau nan mawakili tuan rumah ditiok jamba, mamasuak-an samba alias lauak pauak nan dilatak-an ditangah-tangah piriang gadang nan alah baisi nasi. Piriang gadangko ado kalono dilatak-an di ateh dulang tapi bisa juo indak baaleh jo dulang. Malatak-an sambako musti arif bijaksano supayo jaan sampai latak samba cako tampak kurang adia, jadi musti sabana di tangah. Di masiang-masiang jamba duduak ipa jo bisan, si pangka jo si alek, ado nan tuo, ado nan dituokan, sainggo proses makan basamo sabana musti dijago supayo tatap dalam kaadaan bataratik. 

Irama suok turun naiak musti basilambek, indak buliah karocoh pocoh, musti nanti manantian. Nan disuok hanyolah nan diadok-an awak masiang- masiang, jadi indak buliah malintehi 'panyuok-an' urang di suok kida awak Katiko mamuloi indak nampak bana sia nan paliang daulu, sabab mambasuah tangan sabalun ka makan buliah samo sarangkek. Tapi ka baranti ado aturan nan musti dijago, indak buliah nan mudo daulu mambasuah tangan. Walaupun awakno alah kanyang, bagianno alah abih, ano musti manantian sampai nan labiah tuo atau nandituo-an salasai sudah itu mambasuah tangan labiah daulu, baitu taratikno. 

Makan bisa dilaluan sambia maota-ota ketek, tapi musti dijago pulo kato- kato jo caro mangecek, jaan sampai bakapantiangan nasi kalua dari muncuang. Indak bataratik namono kalau makan disaratoi jo galak takakah-kakah, sabab jo caro ikopun amuah pulo tabosek nasi dari muncuang kalua. Makan indak buliah barimah atau taserak nasi kalua, sabab nan sarupo iko indak kameh namono alias mubazia. Kalau ka ditambuah-an nasi, apo lai tambuahan nan nomor sakian, musti samupakaik urang sajamba. Kalau urang alah sabana manulak, bukan lai dek babaso, jaan dipasoan juo supayo jaan sampai basiso. Basisoko indak buliah. Jadi fihak si pangka (nan kamanambuah-an nasi) iyo bana harus pandai maakuak-an. Bajamba makan nasi, bajamba pulo 'minum kawa' sasudah itu.

Jamba minun kawako tadiri dari katan, jo ajik, jo kalamai, jo pinyaram nan dilatak-anditangah-tangah. Sabalun ka minun kawa ado pasambahan saketek dulu, mamintak si alek malakek-an parabuang, dek kini musim paujan, baitu jano. 

Romboangan padusi baitu juo carono. Nan babedo hanyolah di caro duduak,
sabab urang padusi duduak basimpuah, samantaro laki-laki duduak baselo.
Seloko indak buliah lapeh sajak mulo duduak sampai sabana tagak maurak selo, sasudah salasai makan jo minum kawa, sasudah salasai jo pasambahan mintak kato katurun, nan lamono bisa jadi sampai ampek jam (panah ambo alami du). Antah baa lo lah carono, alun panah nampak urang nan indak pandai tagak sasudah duduak baselo salomo itu doh.
Paliang-paliang agak sapiradan kaki tu sabanta, ta tengkak-tengkak saketek, sudah tu aman sajo.

Di kampuang ambo, dulu ambo paratian ado sabagian kaum ibu-ibuko nan
mamasuak-an nasi ka muncuang jo caro 'baambuangan'. Nasi tu di 'pamainan' mareka jo jari, sabagian ado nan di 'amia-amia' di tangan babarapo saat sabalun diambuangan ka muncuang. Atraksi nan sabanano cukuik hebaik sababindak ado nan taserak nasi tu doh.

Baiak dikalompok urang laki-laki ataupun urang padusi, biasono anak-anak 
indak disatoan sajamba jo urang tuo-tuo doh. Anak-anak ko diagiah sajo
piriang surang, supayo indak manggaduah.


dikutip dari tulisan:
Muhammad Dafiq Saib, St. Lembang Alam

Rute Tour de Singkarak Tahun 2014


Rute Tor de Singkarak 2014 :

Pembukaan ,  6 Juni 2014 di Pantai Tiram Padang Pariaman
Stage 1 :: 7 Juni 2014   :: Start dari  Padang Pariaman  Finish di Pariman
Stage 2 :: 8 Juni 2014   :: Start dari  Pasaman               Finish di Pasaman Barat
Stage 3 :: 9 Juni 2014   :: Start dari  50 Kota                Finish di Tanah Datar
Stage 4 :: 10 Juni 2014 :: Start dari  Bukittinggi            Finish di Agam
Stage 5 :: 11 Juni 2014 :: Start dari  Payakumbuh         Finish di Solok
Stage 6 :: 12 Juni 2014 :: Start dari  Padang Panjang     Finish di Kota Solok
Stage 7 :: 13 Juni 2014 :: Start dari  Sijunjung              Finish di Dharmasraya
Stage 8 :: 14 Juni 2014 :: Start dari  Sawahlunto           Finish di Solok Selatan
Stage 9 :: 15 Juni 2014 :: Start dari   Pesisir Selatan      Finish di Padang



sumber:
https://twitter.com/infoSumbar

Asyiknya Naik Kereta Api Wisata Danau Singkarak

Kereta Api Wisata Singkarak merupakan Kereta Api wisata yang mengangkut penumpang atau wisatawan dari Stasiun Kereta Api Solok dengan tujuan akhir Stasiun Kereta Api Solok kembali. 


saat menuju ke Sawahlunto
menikung di sungai lasi
Naik Kereta Api Wisata yang satu ini memiliki keunikan tersendiri, Dimulai ketika Kereta Api ini berangkat pagi hari sekitar jam 08.00 Wib. Kereta Api Singkarak ini akan menuju ke Sawahlunto terlebih dahulu. Menjelang memasuki Kota Sawahlunto wisatawan akan dibawa oleh sepur ini melewati terowongan yang biasa disebut "Lubang Kalam", panjang terowongan ini kurang lebih hampir 1 Kilometer.

moment yang ditunggu saat keluar dari lubang kalam
Dari kota Sawahlunto setelah menaikkan penumpang Kereta Api akan berangkat kembali ke kota Solok sekitar pukul 10.00 Wib untuk menaikkan penumpang kembali menuju Stasiun Batutaba di Kabupaten Tanah datar.

Keunikan selanjutnya adalah saat Kereta Api Wisata Singkarak ini (KAWIS Singkarak) akan menyisiri tepi danau Singkarak sepanjang 19 Km menuju Batutaba.

di tepi danau Singkarak
menyisir tepian Singkarak
di atas jembatan Ombilin
di atas jembatan ombilin saat menuju ke batutaba
Setelah 1 Jam perjalanan dari kota Solok kita akan tiba di Stasiun Batutaba. Disini para penumpang akan turun dan biasanya pergi ke arah Danau Singkarak atau nama kecilnya Tanjung Mutiara, bisa berenang atau naik banana boat serta perahu kayuh. Sangat tepat untuk liburan bersama keluarga di akhir pekan.

siap langsir di stasiun batutaba
Selanjutnya ketika kita menghabiskan waktu untuk rekreasi di sekitar danau, sekali sebulan BB 204 akan mengisi bahan bakar di Padang Panjang dan satu lagi keunikan akan ditemui disini. Rel Kereta Api yang dilalui yakni Rel Gigi, yang mana ukuran yang sama hanya ada di Swiss dan India.

hendak mengisi bahan bakar ke Padangpanjang
sepulang mengisi bahan bakar melewati batipuah
Sekitar pukul 14.00 Wib Kereta kembali berangkat untuk mengantarkan penumpang atau wisatawan.


sumber:
http://indonesiarailfans.blogspot.com/2014/04/kereta-api-wisata-danau-singkarak.html

[Foto] Beberapa Gambar Mesjid, Surau di Minangkabau

8 April 2014

Masjid Gadang Koto Nan Ampek Payokumbuah, awal didirikan sekitar tahun 1840
Masjid Gadang Koto Nan Ampek Payokumbuah, awal didirikan sekitar tahun 1840
Masjid Jami' Sariak, Sungai Pua, awal didirikan pada tahun 1800-an
Masjid Jami' Sariak, Sungai Pua, awal didirikan pada tahun 1800-an
Masjid Koto Gadang
Masjid Koto Gadang
Masjid Raya Bingkudu, Canduang, awal dibangun sekitar tahun 1813, ada juga informasi lain menyatakan bahwa didirikan pada tahun 1823.
Masjid Raya Bingkudu, Canduang, awal dibangun sekitar tahun 1813, ada juga informasi lain menyatakan bahwa didirikan pada tahun 1823.
Surau Nagari Lubuak Bauak Batipuah Baruah
Surau Nagari Lubuak Bauak Batipuah Baruah
Surau Tuo, Nagari Pariangan, Tanah Data
Surau Tuo, Nagari Pariangan, Tanah Data
Masjid Quba Rao Rao, Tanah Datar
Masjid Quba Rao Rao, Tanah Datar
Masjid Jami' Nagari Sariak, Sungaipua
Masjid Jami' Nagari Sariak, Sungaipua
Surau tuo di Palupuah
Surau tuo di Palupuah
Masjid (Pesantren) Raudhatul Jannah, Luak Anyia, Bukittinggi.
Masjid (Pesantren) Raudhatul Jannah, Luak Anyia, Bukittinggi.
Surau Tuo Taram, Harau, Limapuluh Kota
Surau Tuo Taram, Harau, Limapuluh Kota
Masjid Jami' Taluak, Banuhampu, Agam
Masjid Jami' Taluak, Banuhampu, Agam
Masjid Raya Al-Azhar, Komplek Univesitas Negeri Padang (UNP)
Masjid Raya Al-Azhar, Komplek Univesitas Negeri Padang (UNP)

Masjid Baiturrahman Nagari Sungayang, Kecamatan Sungayang, Kabupaten Tanahdatar
Masjid Baiturrahman Nagari Sungayang, Kecamatan Sungayang, Kabupaten Tanahdatar

sumber foto: Ian Piliang

[Video] Lagu Minang Nostalgia Susi

4 April 2014

1. Susi - Kama Denai Batenggang



2. Susi - Indak Kabarulang



3. Susi - Apo Ubeknyo



4. Susi - SiBuyuang Kinilah Gadang



5. Susi - Uda Zainudin



6. Susi - Sansai Bacinto



7. Susi - Basimpang Jalan





lebih lengkapnya :

Kato Dalam Adat Minangkabau

3 April 2014

Pembagian Kato Dalam Adat Minangkabau


Kato adalah suatu lafaz yang menghendaki makna 
Makna adalah suatu pengertian yang tidak mempunyai huruf dan suara. 
Rundingan adalah suatu pembicaraan yang menghasilkan suatu maksud.

Kato Terbagi tiga dalam adat
1. Kato muqabilah 
2. Kato bakilah 
3. Kato bahelah 

1. Kato Muqabilah 
Ialah kata-kata dalam adat, yaitu 

Rundiang nan saiyo 
Bana nan saukua 
Bak batang dalam tanah 
Tigo puluh tahun dalam lunau 
Namun tareh mambangun juo 
Bak ibarat bungo pinggan 
Walau pacah basimpang tujuah
Bamusin dalam tanah 
Namun ragi tak namuah hilang 

Artinya : 
Kato ini adalah kato kebenaran yang tidak dapat diubah dan tidak dapat ditukar. Disebut juga kato yang hak yang harus dilaksanakan oleh ninik mamak dan pemimpin. 
Kato ini pulalah yang harus ditegakkan dan dituruti.

2. Kato Bakilah 
Adalah kato-kato di dalam adat yang tidak dapat dijadikan pedoman dan pegangan, seperti : 

Mangambiak contoh 
Ateh kebenaran orang lain 
Sagalo kato-kato urang 
Napi kasadonyo 
Nan batua dirinyo sajo. 

Artinya : 
Perkataan seseorang yang hanya kata dia saja yang benar, dan kata-kata ini diambil dari kata-kata orang lain, yaitu orang yang tidak dapat katanya dibantah, karena kebodohannya. 

3. Kato Bahelah

Menghelah seorang lain atas jalan kebenaran. 

barih luruih alua tarantang 
Sakato kito mangunjuangi bananyo. 
Nak bulan ka tabik 
Pahamnyo bak api dalam sakam 
Di lahia indak mangasan
Lah anguih sajo mako tahu. 

Artinya : 
Kata yang selalu dihelah karena ingin lari dari kebenaran atau orang yang mengatakan dialah yang benar, orang lain tidak benar.

Rundingan
ada tiga macam :
1. Rundingan basimanih
2. Rundingan basiginyang 
3. Rundingan basiransang 

1. Rundingan Basimanih 
Ialah : 
Rundingan nan liok-liok lambai 
Rundingan nan lamak-lamak manih 
Lamak bak santan jo tangguli 
Sakali runding disabuik 
takana juo salamonyo 

Artinya :
Perkataan dalam pergaulan sehari-hari yang baik dan manis, menarik hati orang sehingga mudah untuk membawa kepada suatu pengertian dan kebenaran. 

2. Rundingan Basiginyang 
Ialah : 
Rundingan nan tagang-tagang kandua 
Rundingan nan tinggi-tinggi randah 
Bak mahelo tali jalo 
Agak tangan di kanduri 
Diam di kato nan sadang elok 

Artinya :
Perkataan dalam pergaulan sehari-hari yang selalu bisa menaklukkan orang yang menimpang dari jalan yang benar. Pembicaraan ini tidak menghendaki tindakan yang keras, hanya cukup untuk menundukkan seseorang dengan perkataan yang baik dan lunak lembut. 

3. Rundingan Basiransang 
Ialah : 
Banyak andai jo kucindan 
Sarato galuik jo galusang 
Ka lalu raso ka tasabuik 
Ka suruik jalan tataruang 
Ditampuah juo kasudahannyo.

Artinya : 
Pembicaraan yang ragu dan tidak tegas dalam suatu persoalan. 

Sifat Kato jo rundingan tigo macamnyo : 
1. Tipuan Aceh
2. Gurindam Barus 
3. Tangguak Malayu 

1. Tipuan Aceh

Ditipu jo muluik manih 
Dikabek jo aka budi
Dililik jo baso baiak 
Muluik manih talempong kato 
Baso baiak gulo di bibia 
Budi haluih bak lauik dalam 
Tampek bamain aka budi 

2. Gurindam Barus 

Dipahaluih andai rundingan 
Dipabanyak ragam kecek 
Dipaeloki tungkuih garam 
Dipagadang tungkuih rabuak 
Padi dikabek jo daunnyo 
Manusia di kabek jo akanyo 
Sarato di helo jo budinyo 

3. Tangguak Malayu 

Tak kaik tupang manganai 
Tak siriah pinang mamalan 
Tak tajak tajuak tajarang 
Tak pasin tangguang tibo 
Tak laju dandang di aia 
Di gurun ditajakkan juo 
Umpamo mancakau buruang 
Kok lari ka ateh kayu 
Di temak jo damak 
Kok lari ka aia diserakkan jalo 
Kok lari ka dalam tanah 
Di kali jo Tambilang 
Kok ka awang-awang 
Dipasuang jo asok 
Lamo lambek jatuah juo kasudahannyo 

Sifat kato dan rundingan yang dimaksud di dalam adat ialah : seorang penghulu atau pemimpin dalam masyarakat selalu berusaha untuk membawa orang kepada jalan kebenaran. Tetapi hendaklah dilakukan kebijaksanaan dengan kata-kata yang baik, lunak, lembut karena kata yang lunak lembut itu merupakan kunci bagi hati manusia, dan sangat perlu. 
Metode seperti ini bagi seorang penghulu atau pemimpin untuk membawa orang kepada kebenaran, kalau sekiranya orang ini bersikeras kepala tidak patuh, dan tidak mau menerima suatu kebenaran, kalau menurut pendapatnya tidak diterima oleh orang lain, seperti kata pepatah : 

Bungkuak sauah tak takadang 
Kareh hiduang sangiek kaluan 
Nan bak umpamo tukang rabab 
Nan balaku bak katonyo surang 
Nan bana bananyo sorang 
Nan di urang bukan kasadonyo. 

Jangan hendaknya terjadi di dalam pemimpin kita untuk membawa orang kepada suatu kebenaran dengan jalan kekerasan, seperti : 

Kuek katam karano tumpu 
Kuek sapik karano takan 
Tetapi,
Palu-palu ula dalam baniah 
Baniah tak leso 
Tanah tak lambang 
Panokok tak patah 
Tapi nan ula mati juo

Begitupun sifat kato dan rundingan ini berguna sekali dalam pergaulan sehari-hari karena seseorang penghulu atau pemimpin akan menjadi contoh dan tauladan bagi anak kemenakan dan orang banyak. Pepatah mengatakan : 

Muluik tataruang ameh padahannyo 
Kaki tataruang inai padahannyo 
Mulutmu harimau-mu 
Itu yang menjadi musuh padamu 

Murah kato takatokan 
Sulik kato jo timbangan 
Anjalai pamaga jo timbangan 
Tumbuah sarumpun jo lagundi 
Kok pandai bakato-kato 
Bak santan jo tangguli 
Kok tak pandai mangaluakan kato-kato 
Bak alu pancukia duri. 




sumber:Buletin Sungai Puar 16 Agustus 1986

Pambagian Wanita Menurut Adat Minangkabau

Pambagian Wanita Menurut Adat Minangkabau


Mengingat pentingnya peranan wanita didalam dan luar rumah tangga, maka menurut adat Minangkabau wanita dapat digolongkan kepada tiga macam. Kalau syarak mangato adat mamakai, maka syarak yang mengatakan wanita itu tiang nagari atau negara, bilamana baik wanitanya maka baiklah nagari atau negaranya, jika rusak wanitanya maka rusaklah nagari atau negaranya. Maka secara tajam adat membedakan tiga golongan wanita tersebut, yakni :

1. Simarewan
Bapaham bagai gatah caia
Iko elok etan katuju
Bak cando pimpiang dilereang
nan bak santano pucuak aru
Kamano angin inyo kakiun
alun dijujai inyo alah galak
Alun diimbau inyo alah datang
Nan bak balam talampau jinak
Sifat bak lipeh tapanggang
Umpamo caciang kapanasan

Nan pancaliak bayang bayang
Nan panagak ditapi labuah
Lain geleng panokok
Asiang kacundang sampik
Tagisia labiah bak kanai
Tasingguang labiah bak jadi

Kok tumbuah gaua jo laki laki
Banyak galak daripado kecek
Banyak kucikak jo kucindam
Malu jo sopan tak tapakai
Ereang jo gendeang tak baguno
Bak umpamo katidiang tangga bingkai
Bak ibarat payuang tangga kasau

Elok baso tak manantu
Kecek bak caro mambaka buluah
Suko bakato kato cabuah
Mamakai sipat sio sio
Tabiak caba dipakaian
Duduak jo tagak tak nan sopan
Katonyo banyak ka nan bukan
Rundiang banyak bakucekak
Galak bak ibarat gunuang runtuah
Tapuang jo sadah tak babeso
Baiak dimuko sanak famili
Ataupun dimuko urang lain
Indak barundiang jo timbangan
Rundiang ka nan tidak babalabeh
Taruah bana bak katidiang
Taserak bana bak anjalai
Manyingguang puncak bisua urang
Manjunjuang balacan dikapalo
Manggali gali najih dilubang
Hati busuak pikiran hariang
Muluik kasa kecek manggadang
Hati diateh langik biru
Ibuk bapak tak babeso
Niniak jo mamak tak nan tau
Urang dipandang sarok sajo
Nan tuo indak bahormati
Nan ketek indak bakasihi
Korong kampuang nan tak jaleh
Adat indak baisi
Limbago indak batuang
Imbau nan indak basahuti
Panggilan nan indak baturuti
Urang batuan dihatinyo
Urang barajo di dimatonyo
Durhako kapado ibu bapak
Labiah kapada rang tuo tuo

Artinya wanita nan jauah dari kesopanan dalam setiap tingkah lakunya.

2. Mambang Tali Awan
Iyolah wanita tinggi hati
Kalau mangecek samo gadang
Atau barundiang ka nan rami
Sagalo labiah dari urang
Tasambia juo bapak si buyuang
Basabuik juo bapak siupiak
Nan sagalo labiah dari urang
Baiak tantang pambalinyo
Atau tantang kasiah sayangnyo

Siang jo malam jarang dirumah
Naiak rumah turun rumah
Etan karumah tanggo lain
Suko mangecek jo maota
Tantang buruak baiak urang
Gilo mambandiang bandiangkan urang
Baiak jo elok badan diri
Ataupun dikayo laki awak
Kok tibo di di gadih mudo mantah
Nan panduduak ditapi jalan
Nan panagum diateh janjang
Nan pamegu dimuko pintu
Bak ibarat kacang diabuih ciek
Bak lonjak labu tabanam
Gadang tungkuih tak barisi
Bak ibarat buluah bambu
Batareh tampak kalua
Tapi didalam kosong sajo
Karajo parampuan tak nan tau
Karajo batandang siang jo malam
Kok tumbuah mandi ditapiang
Kecek mangecek lumak lamik
Mambincang bincang urang sakampuang
Mampakatokan urang sarumah
Baiak antaro laki bini
Ataupun dalam korong kampuang
Dio manjadi upeh upeh racun
Duduak tagak karajo sumbang
Baiak didalam tingkah laku
Atau dalal pi'il jo parangai
Manyusah pandang urang banyak
Suko bagaduah tangah rumah
Suko bacakak jo urang kampuang
Asuang siasah lah pakaian
Dangki kianat lah parangai
Aka buruk pikiran salah
Gilo dimabuak angan angan
Raso pareso tak tapakai
Malu jo sopan jauah sakali
Tasingguang urang kanai miangnyo
Takuncang urang kanai rabehnyo
Bak ibarat baolok olok
Bagai kancah laweh arang
Paham bak tabuang sarueh
Capek kaki tapi panaruang
Ringan tangan tapi pamacah.

3. Parampuan
Yang dimaksud parampuan menurut adat Minangkabau adalah seorang wanita, baik gadis maupun telah menjadi ibu atau istri yang senantiasa menpunyai sipat terpuji menurut adat, yang dilengkapi dengan segala kecakapan dan pengetahuan sesuai dengan kemampuan seorang wanita.

Parampuan adalah seorang wanita yang baik budi pekertinya, sopan tingkah lakunya, memakai sifat malu didalam dirinya, seperti kata adat :

Adapun nan disabuik parampuan
Tapakai taratik jo sopan
Mamakai baso jo basi
Tahu diereang jo gendeang
Mamakai raso jo pariso
Manaruah malu jo sopan
Manjauahi sumbang jo salah
Muluik manih baso katuju
Kato baiak kucindam murah
Baso baiak gulo dibibia
Pandai bagaua samo gadang
Hormat kapado ibu bapak
Hidmat kapado urang tuo tuo
Mamakai di malu samo gadang
Labiah kapado pihak laki laki
Takuik kapado Allah
Manuruik parentah Rasul
Tahu dikorong jo kampuang
Tau dirumah jo tanggo
Tahu manyuri manuladan
Takuik dibudi katajua
Malu dipaham ka tagadai
Manjauahi sumbang jo salah
Tahu dimungkin jo patuik
Malatakkan sasuatu pado tampaiknyo
Tahu ditinggi jo randah
Bayang-bayang sapanjang badan
Buliah ditiru dituladan
Ka suri tuladan kain
Kacupak tuladang batuang
Maleleh buliah dipalik
Manitiak buliah ditampuang
Satitiak buliah dilauikkan
Sakapa dapek digunuangkan
Iyo dek urang di nagari

Wanita demikian tepat memakai predikat Bundo Kanduang



sumber:Buletin Sungai Pua 17 November 1986.

Pembagian Urang Sumando Dalam Adat Minangkabau

pembagian urang sumando menurut adat minang

1. Rang Sumando Kacang Miang
Yang dikatakan rang sumando kacang miang adalah rang sumando pengacau, pengharu biru dalam kampuang, suka menghasut dan memfitnah antara andan pasumandan, antara pambayan sesamanya dan antara orang badunsanak. Kacang miang menerbitkan gatal, pindah memindah pada orang yang menghampirinya. Dalam susunan adat istiadat inilah sumando nan cilako.

2. Rang Sumando lapiak Buruak
Rang sumando lapiak buruak adalah rang sumando yang bodoh dan tidak mau keluar rumah berusaha, seperti kesawah ataupun keladang, atau berdagang berniaga untuk nafkah anak dan istrinya. Yang disukainya adalah duduak bamanuang di tapi bandue dan benar-benar pemalas. Sumando seperti ini tentu tidak berguna bagi orang.

3. Rang Sumando langau Hijau
Sumando langau hijau hanya dipakai untuk memperbanyak anak saja, seperti seekor langau hijau yang terbang kesana kemari, sehingga bertelur dalam sampah dan sesudah itu terbang pula kemana dia suka. Sumando seperti ini tidak mempunyai pedoman hidup yang tetap. Begitu pulalah sifatnya yang mau berbini banyak. Kasinan marongong kamari marongong dan meninggalkan istrinya yang sedang hamil (manganduang bangan) dan tidak memberikan jaminan hidup terhadap keluarganya.

4. Rang Sumando Bapak paja
Yang ini adalah untuk memperbanyak anak saja. Dia tidak peduli apa yang terjadi di kampung (pasukuan) istrinya. Yang terpenting baginya adalah suasana lahir batin yang terjadi di kampung (pasukuan) dia saja.

5. Rang Sumando Niniak Mamak
Rang sumando niniak mamak ini adalah sebenar-benarnya rang sumando. Dia adalah orang sama mengatur barang sesuatu dalam keluarga istrinya dan tidak mengambil hak mamak rumah. Dia mengumpulkan yang berantakan dalam keluarga istrinya. Mangampuangkan nan taserak, manjapuik nan tacicie, mengingatkan mana yang lupa, sehingga dalam kampuang (pasukuan) istrinya itu dia mempunyai paham seperti paham niniak mamak. Keruh menjernihkan, kusut menyelesaikan. Dalam segala hal yang mungkin terjadi, pertimbangannya perlu dimintak, dan dia tidak akan ditinggalkan orang dalam tiap-tiap perundingan di kampung (pasukuan) istrinya.



sumber:Adat Minangkabau - Pidato Pasambahan & Tata Cara Adat Perkawinan, Jakarta 1991

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Info Minang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger